Langsung ke konten utama

Revolusi Mental : Buang Sampah di Tempatnya

Siapapun pemimpinnya. Apapun sistem kepemimpinan / kenegaraan. Gak akan berarti kalau mental rakyatnya masih mental terbelakang.

https://www.instagram.com/p/BqEVnOxHuoq/

Di atas adalah foto Manggarai Jakarta 2018. Gue gak lagi bicarain siapa gubernurnya. Gue gak lagi bandingin pas dipimpin Guberner Anies dan Gubernur Ahok. Postingan ini gak bermaksud atau bermuatan politis apapun terhadap masing-masing pejabat.

Mau masa jabatan Gub Anies atau Gub Ahok, masih ada masyarakat yang melakukan pembuangan sampah tidak pada tempatnya. Bedanya pada masa Gub Ahok, sampah sampah ini dibersihkan. Tapi akar permasalahannya adalah bukan masalah Gub Ahok bersih karena sudah dibersihkan dan sejak Gub Anies kotor karena tidak sebersih masa Gub Ahok. Bukan itu. Tapi mental masyarakat yang masih buang sampah di sungai.

Mental buang sampah sembarangan ini berlaku umum. Tidak memandang kaya atau tidak, terpelajar atau tidak, pejabat atau bukan. Gue cukup miris apabila masih ada orang kaya atau terpelajar atau pejabat memberikan contoh yang tidak baik dengan buang sampah tidak pada tempatnya. Bukan berarti selain mereka gue maklum tapi gue ngerasa miris aja pada mereka yang punya 'kelebihan' namun tidak memanfaatkan atau bersyukur atas 'kelebihan' mereka tersebut.

Gue pernah lihat ada pedagang kaki lima, buang sampah di sungai. Di depan mata kepala gue sendiri. Gimana rasanya gue gak langsung berdoa yang enggak enggak. Gue juga sering lihat makanan yang ditinggal begitu saja di meja baik di gerai franchise, baik itu sekadar gelas atau bekas makanan, berharap dibersihkan oleh staf gerai. Gue juga sering lihat puntung rokok dibuang sembarangan, entah lagi berkendara motor atau lagi nongkrong atau apapun itu. Gue tahu, puntung rokok itu kecil. Tapi mereka ngerokok berapa kali sehari? Trus orang kayak mereka itu ada berapa. Jadi ada berapa puntung rokok yang dibuang sembarangan di jalan. Belum lagi membuang sampah dari jendela mobil. Baik mobil pribadi, angkot, hingga mobil polisi.

Mental membuang sampah sembarangan ini gak memandang umur, jabatan, status, dan seterusnya. Mental membuang sampah sembarangan ini seharusnya diberantas dengan cara sanksi sosial yang tepat. Serta pengadaan fasilitas tempat buang sampah yang layak nan memadai.

Well, gue mau buang sampah rumah aja bingung mau kemana, pas gue lagi ngontrak rumah. Kebetulan di dalam perumahan warga dan gue gak bayar semacam layanan kebersihan. Akhirnya gue cari tempat sampah yang biasa diambil 'pasukan oranye' lokal yang jaraknya jauh, sekitar 2-3 kilometer dari rumah.

Wah panjang juga nih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Skandal Facebook dan Cambridge Analytica

Baru-baru ini Facebook diterpa skandal yang cukup meresahkan netizen. Skandal ini dipicu oleh whistleblower, seorang karyawan Cambridge Analytica, yang mengungkapkan bahwa perusahaannya melakukan profile mining dari 50 juta pengguna facebook. Profile tersebut kemudian diduga telah digunakan untuk political target advertisement. Skandal ini cukup kritikal untuk Facebook, hingga Mark Zuckerberg menyempatkan diri untuk menulis post terkait isu ini di akun pribadinya . Bahkan ia juga sempat diwawancarai oleh sebuah televisi swasta, yakni CNN . Berikut  video  terkait wawancara tersebut. Permasalahan skandal tersebut pun meluas terhadap bagaimana detailnya facebook memiliki data penggunanya. Bukan hanya status atau foto yang diunggah pengguna. Bahkan data perihal kontak yang ada di ponsel, panggilan masuk, panggilan keluar, dst. Downloaded my facebook data as a ZIP file Somehow it has my entire call history with my partner's mum pic.twitter.com/CIRUguf4vD — Dylan McKa...

Darkest Hour (2017)

Bagi penggemar kisah Perang Dunia ke-2 (WWII), film ini pastinya ditunggu-tunggu. Gue sendiri baru sadar kalau film ini ada hubungannya dengan film Dunkirk (2017). Kalau Dunkirk itu menggambarkan kondisi peperangan di lapangan. Sedangkan Darkest Hour menggambarkan intrik politik di Inggris saat tentaranya dihabisi oleh Jerman di bawah pimpinan Hitler. Menurut gue sendiri, film ini sempat membosankan di beberapa scene. Namun di beberapa scene, film ini berhasil menggambarkan suasana emosional dan kritis dengan sangat baik. Gue gak begitu kenal dengan aktor-aktrisnya. Di beberapa review, disebut bahwa Gary Oldman memerankan Winston Churcill dengan sangat sangat baik. Memang benar, Gary memenangi penghargaan Oscar di kategori "Best Performance by an Actor in a Motion Picture - Drama".

Murder On The Orient Express (2017)

Film ini ya, endingnya bener bener gak terduga. Diangkat dari sebuah novel laris, kayaknya film ini berhasil diadaptasi dengan baik. Gue gak pernah baca novelnya sih. Mungkin bagi penggemar novelnya akan komentar ini itu. Ya menurut gue sih adaptasinya udah cukup oke kok. Terutama kumis sang detektif yang ikonik, sepertinya jadi maskot cerita tersebut. Bagi penggemar kisah detektif seperti Sherlock Holmes, film ini oke juga.