Siapapun pemimpinnya. Apapun sistem kepemimpinan / kenegaraan. Gak akan berarti kalau mental rakyatnya masih mental terbelakang.
Di atas adalah foto Manggarai Jakarta 2018. Gue gak lagi bicarain siapa gubernurnya. Gue gak lagi bandingin pas dipimpin Guberner Anies dan Gubernur Ahok. Postingan ini gak bermaksud atau bermuatan politis apapun terhadap masing-masing pejabat.
Mau masa jabatan Gub Anies atau Gub Ahok, masih ada masyarakat yang melakukan pembuangan sampah tidak pada tempatnya. Bedanya pada masa Gub Ahok, sampah sampah ini dibersihkan. Tapi akar permasalahannya adalah bukan masalah Gub Ahok bersih karena sudah dibersihkan dan sejak Gub Anies kotor karena tidak sebersih masa Gub Ahok. Bukan itu. Tapi mental masyarakat yang masih buang sampah di sungai.
Mental buang sampah sembarangan ini berlaku umum. Tidak memandang kaya atau tidak, terpelajar atau tidak, pejabat atau bukan. Gue cukup miris apabila masih ada orang kaya atau terpelajar atau pejabat memberikan contoh yang tidak baik dengan buang sampah tidak pada tempatnya. Bukan berarti selain mereka gue maklum tapi gue ngerasa miris aja pada mereka yang punya 'kelebihan' namun tidak memanfaatkan atau bersyukur atas 'kelebihan' mereka tersebut.
Gue pernah lihat ada pedagang kaki lima, buang sampah di sungai. Di depan mata kepala gue sendiri. Gimana rasanya gue gak langsung berdoa yang enggak enggak. Gue juga sering lihat makanan yang ditinggal begitu saja di meja baik di gerai franchise, baik itu sekadar gelas atau bekas makanan, berharap dibersihkan oleh staf gerai. Gue juga sering lihat puntung rokok dibuang sembarangan, entah lagi berkendara motor atau lagi nongkrong atau apapun itu. Gue tahu, puntung rokok itu kecil. Tapi mereka ngerokok berapa kali sehari? Trus orang kayak mereka itu ada berapa. Jadi ada berapa puntung rokok yang dibuang sembarangan di jalan. Belum lagi membuang sampah dari jendela mobil. Baik mobil pribadi, angkot, hingga mobil polisi.
Mental membuang sampah sembarangan ini gak memandang umur, jabatan, status, dan seterusnya. Mental membuang sampah sembarangan ini seharusnya diberantas dengan cara sanksi sosial yang tepat. Serta pengadaan fasilitas tempat buang sampah yang layak nan memadai.
Well, gue mau buang sampah rumah aja bingung mau kemana, pas gue lagi ngontrak rumah. Kebetulan di dalam perumahan warga dan gue gak bayar semacam layanan kebersihan. Akhirnya gue cari tempat sampah yang biasa diambil 'pasukan oranye' lokal yang jaraknya jauh, sekitar 2-3 kilometer dari rumah.
Wah panjang juga nih.
![]() |
| https://www.instagram.com/p/BqEVnOxHuoq/ |
Di atas adalah foto Manggarai Jakarta 2018. Gue gak lagi bicarain siapa gubernurnya. Gue gak lagi bandingin pas dipimpin Guberner Anies dan Gubernur Ahok. Postingan ini gak bermaksud atau bermuatan politis apapun terhadap masing-masing pejabat.
Mau masa jabatan Gub Anies atau Gub Ahok, masih ada masyarakat yang melakukan pembuangan sampah tidak pada tempatnya. Bedanya pada masa Gub Ahok, sampah sampah ini dibersihkan. Tapi akar permasalahannya adalah bukan masalah Gub Ahok bersih karena sudah dibersihkan dan sejak Gub Anies kotor karena tidak sebersih masa Gub Ahok. Bukan itu. Tapi mental masyarakat yang masih buang sampah di sungai.
Mental buang sampah sembarangan ini berlaku umum. Tidak memandang kaya atau tidak, terpelajar atau tidak, pejabat atau bukan. Gue cukup miris apabila masih ada orang kaya atau terpelajar atau pejabat memberikan contoh yang tidak baik dengan buang sampah tidak pada tempatnya. Bukan berarti selain mereka gue maklum tapi gue ngerasa miris aja pada mereka yang punya 'kelebihan' namun tidak memanfaatkan atau bersyukur atas 'kelebihan' mereka tersebut.
Gue pernah lihat ada pedagang kaki lima, buang sampah di sungai. Di depan mata kepala gue sendiri. Gimana rasanya gue gak langsung berdoa yang enggak enggak. Gue juga sering lihat makanan yang ditinggal begitu saja di meja baik di gerai franchise, baik itu sekadar gelas atau bekas makanan, berharap dibersihkan oleh staf gerai. Gue juga sering lihat puntung rokok dibuang sembarangan, entah lagi berkendara motor atau lagi nongkrong atau apapun itu. Gue tahu, puntung rokok itu kecil. Tapi mereka ngerokok berapa kali sehari? Trus orang kayak mereka itu ada berapa. Jadi ada berapa puntung rokok yang dibuang sembarangan di jalan. Belum lagi membuang sampah dari jendela mobil. Baik mobil pribadi, angkot, hingga mobil polisi.
Mental membuang sampah sembarangan ini gak memandang umur, jabatan, status, dan seterusnya. Mental membuang sampah sembarangan ini seharusnya diberantas dengan cara sanksi sosial yang tepat. Serta pengadaan fasilitas tempat buang sampah yang layak nan memadai.
Well, gue mau buang sampah rumah aja bingung mau kemana, pas gue lagi ngontrak rumah. Kebetulan di dalam perumahan warga dan gue gak bayar semacam layanan kebersihan. Akhirnya gue cari tempat sampah yang biasa diambil 'pasukan oranye' lokal yang jaraknya jauh, sekitar 2-3 kilometer dari rumah.
Wah panjang juga nih.

Komentar
Posting Komentar