Langsung ke konten utama

Baju yang sama setiap hari

Dari kecil baju gue selalu dikasih dan dibeliin ortu. Kalau gak pas banget sih, ya baju bakal ngendon di dalam lemari, gak pernah gue pake kemana-mana. Ujung-ujungnya gue pake baju yang itu-itu aja. Kebiasaan ini berhenti sejak gue kuliah, Gue menyisihkan uang saku bulanan gue buat beli baju sendiri. Bukan berarti tanpa cela ya, gue pernah juga beli baju yang ternyata gak cocok dipake sehari-hari padahal pas dicoba cocok-cocok aja. The magic of fitting room! 💢

Pas kuliah gue sempat nyoba usaha clothing dan gak lama akhirnya gue gerhenti gara-gara kuwalahan buat handle sembari kuliah. Kebetulan ada sisa-sisa kaos layak pake yang warnanya sama dan ukurannya sama, ada kali selusin. Gue pun berpikiran, daripada gue jual lagi, bisa kali ya gue pake sendiri. 💡

Nah itulah awal mula kenapa gue pake kaos yang keliatan sama setiap hari di kampus. 👕

Saat awal masuk kerja kantoran di perusahaan besar, HR kritik penampilan gue habis-habisan. Gue disuruh ganti baju, celana, hingga ngerapihin muka. Bukan maksud muka kusut disuruh setrika gitu sih tapi disuruh cukur kumis yang cukup lebat sejak kuliah. Temen-temen juga cerita kalau gue dikira trainer saat masuk ke ruangan buat briefing awal. 😓

Berbekal konsep kaos yang gue pake pas kuliah, gue pun berpikiran apa salahnya gue beli baju dengan model dan warna yang sama. Setahun berlalu dan salah satu tim gue pun komentar, "Lo gak ganti baju ya dari kemarin?". Entah dia baru nyadar atau udah dari lama tapi baru komentar. 😂 Dan menyusul beberapa komentar dari teman kerja lainnya. Tapi gue selalu bertahan dengan keputusan gue untuk pake model dan warna yang sama.

Kenapa?
1. Gue gak sendirian, ada juga Steve Jobs, Mark Z, Albert Enstein yang punya "trademark outfit".
2. I already defined which outfit best for me. By meaning best, it looks good on me and I am confident wearing it.
3. Easier purchase decision. Gue mengurangi kemungkinan baju gak terpakai gara-gara ternyata gak cocok setelah dipadu padankan dengan pakaian lainnya (mix and match).
4. Speaking of mix and match, it has shorter decision on choosing which outfit I wear everyday.
5. Easier laundry, since they have same colour and fabric type.

Sampai akhirnya ada temen gue yang kasih pendapat lebih panjang dan lebih valid. Well, surely and definitely let me try out the thing. Toh gak ada ruginya juga ganti model dan warna baju tiap hari. 👌

Tebak gue yang mana?

After all, there is one more reason why I wear the same outfit everyday,
6. To write this experience in a blogpost 😜

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Skandal Facebook dan Cambridge Analytica

Baru-baru ini Facebook diterpa skandal yang cukup meresahkan netizen. Skandal ini dipicu oleh whistleblower, seorang karyawan Cambridge Analytica, yang mengungkapkan bahwa perusahaannya melakukan profile mining dari 50 juta pengguna facebook. Profile tersebut kemudian diduga telah digunakan untuk political target advertisement. Skandal ini cukup kritikal untuk Facebook, hingga Mark Zuckerberg menyempatkan diri untuk menulis post terkait isu ini di akun pribadinya . Bahkan ia juga sempat diwawancarai oleh sebuah televisi swasta, yakni CNN . Berikut  video  terkait wawancara tersebut. Permasalahan skandal tersebut pun meluas terhadap bagaimana detailnya facebook memiliki data penggunanya. Bukan hanya status atau foto yang diunggah pengguna. Bahkan data perihal kontak yang ada di ponsel, panggilan masuk, panggilan keluar, dst. Downloaded my facebook data as a ZIP file Somehow it has my entire call history with my partner's mum pic.twitter.com/CIRUguf4vD — Dylan McKa...

Darkest Hour (2017)

Bagi penggemar kisah Perang Dunia ke-2 (WWII), film ini pastinya ditunggu-tunggu. Gue sendiri baru sadar kalau film ini ada hubungannya dengan film Dunkirk (2017). Kalau Dunkirk itu menggambarkan kondisi peperangan di lapangan. Sedangkan Darkest Hour menggambarkan intrik politik di Inggris saat tentaranya dihabisi oleh Jerman di bawah pimpinan Hitler. Menurut gue sendiri, film ini sempat membosankan di beberapa scene. Namun di beberapa scene, film ini berhasil menggambarkan suasana emosional dan kritis dengan sangat baik. Gue gak begitu kenal dengan aktor-aktrisnya. Di beberapa review, disebut bahwa Gary Oldman memerankan Winston Churcill dengan sangat sangat baik. Memang benar, Gary memenangi penghargaan Oscar di kategori "Best Performance by an Actor in a Motion Picture - Drama".

Murder On The Orient Express (2017)

Film ini ya, endingnya bener bener gak terduga. Diangkat dari sebuah novel laris, kayaknya film ini berhasil diadaptasi dengan baik. Gue gak pernah baca novelnya sih. Mungkin bagi penggemar novelnya akan komentar ini itu. Ya menurut gue sih adaptasinya udah cukup oke kok. Terutama kumis sang detektif yang ikonik, sepertinya jadi maskot cerita tersebut. Bagi penggemar kisah detektif seperti Sherlock Holmes, film ini oke juga.