Langsung ke konten utama

Kopi dan uang elektronik

Gue bukan penyuka kopi yang bisa membedakan mana kopi yang enak dan kurang enak. Tapi gue selalu butuh kopi sebagai pelengkap awal hari gue sebelum memulai aktivitas. Kurang lengkap tanpa kopi di pagi hari.

Layaknya sarapan sebagai bekal energi selama sehari penuh, gue minum kopi agar bisa segar seketika. Secara kopi memicu adrenalin tubuh dan memacu detak jantung dan menghindarkan kantuk. Itu sangat membantu gue agar lebih cepat siap kerja di pagi hari.

Walaupun begitu gue berusaha tidak minum kopi lebih dari 2x sehari. Pagi dan siang/sore itu cukup. Katanya sih gak bagus.

Kopi bungkus dan kopi kemasan

Nah kopi andalan gue dulu itu kopi bungkus. Cuman gue kurang suka sebab ampasnya yang banyak. Dan rasanya kurang nyaman saat meminumnya.

Kemudian gue beralih ke kopiko 78c yang dingin praktis serta murah. Gue pernah beli banyak di Giant sebagai persediaan selama seminggu ke depan. Kalau habis dan gak sempat ya beli di Indomaret/Alfamart. Namun karena sadar gulanya terlalu banyak, akhirnya gue berusaha menghindari minuman kemasan.

Gue pun beralih ke coffee shop dan sekadar beli Americano atau kopi susu biasa. Sayang harganya masih belum cukup ekonomis. Paling tidak, kopinya jelas hasil gilingan biji kopi. Kalau kopi bungkus atau kemasan kan gak tau kopi beneran atau enggak.

Family Mart
Sampai akhirnya gue mencoba kopi di Family Mart. Kopinya berasal dari gilingan biji kopi beneran dan harganya 10 ribu rupiah. Pun ada diskon 10% kalau memakai alat pembayaran berupa BNI TapCash yang dilabeli Family Mart. Lumayan, pake banget!

Uang elektronik
Promo ini cukup brilian untuk menggaet pengguna uang elektronik. Gue tidak pernah memiliki produk apapun dari BNI. Baik tabungan, kartu kredit, produk investasi, dsb.

Bukan cuma promo diskon, pembelian kartu pun tidak dikenai biaya yang besar. Hanya 10 ribu rupiah. Dibandingkan dengan Mandiri sejumlah 50 ribu rupiah per kartu dan BCA sejumlah 75 ribu rupiah per kartu.

Pun kartu tersebut bisa digunakan untuk naik KRL Commuter Line dan TransJakarta. Setahu gue beberapa gerbang tol juga sudah mendukung pembayaran menggunakan BNI TapCash. Untuk TransJakarta, setahu gue juga hanya berlaku untuk koridor utama, bukan feeder, yang saat ini hanya mendukung Flazz BCA.

Cashless society? Kita butuh promo dan program seperti itu sebagai insentif awal penggalakan uang elektronik. Agar budaya nirtunai (cashless) segera terwujud.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Skandal Facebook dan Cambridge Analytica

Baru-baru ini Facebook diterpa skandal yang cukup meresahkan netizen. Skandal ini dipicu oleh whistleblower, seorang karyawan Cambridge Analytica, yang mengungkapkan bahwa perusahaannya melakukan profile mining dari 50 juta pengguna facebook. Profile tersebut kemudian diduga telah digunakan untuk political target advertisement. Skandal ini cukup kritikal untuk Facebook, hingga Mark Zuckerberg menyempatkan diri untuk menulis post terkait isu ini di akun pribadinya . Bahkan ia juga sempat diwawancarai oleh sebuah televisi swasta, yakni CNN . Berikut  video  terkait wawancara tersebut. Permasalahan skandal tersebut pun meluas terhadap bagaimana detailnya facebook memiliki data penggunanya. Bukan hanya status atau foto yang diunggah pengguna. Bahkan data perihal kontak yang ada di ponsel, panggilan masuk, panggilan keluar, dst. Downloaded my facebook data as a ZIP file Somehow it has my entire call history with my partner's mum pic.twitter.com/CIRUguf4vD — Dylan McKa...

Darkest Hour (2017)

Bagi penggemar kisah Perang Dunia ke-2 (WWII), film ini pastinya ditunggu-tunggu. Gue sendiri baru sadar kalau film ini ada hubungannya dengan film Dunkirk (2017). Kalau Dunkirk itu menggambarkan kondisi peperangan di lapangan. Sedangkan Darkest Hour menggambarkan intrik politik di Inggris saat tentaranya dihabisi oleh Jerman di bawah pimpinan Hitler. Menurut gue sendiri, film ini sempat membosankan di beberapa scene. Namun di beberapa scene, film ini berhasil menggambarkan suasana emosional dan kritis dengan sangat baik. Gue gak begitu kenal dengan aktor-aktrisnya. Di beberapa review, disebut bahwa Gary Oldman memerankan Winston Churcill dengan sangat sangat baik. Memang benar, Gary memenangi penghargaan Oscar di kategori "Best Performance by an Actor in a Motion Picture - Drama".

Murder On The Orient Express (2017)

Film ini ya, endingnya bener bener gak terduga. Diangkat dari sebuah novel laris, kayaknya film ini berhasil diadaptasi dengan baik. Gue gak pernah baca novelnya sih. Mungkin bagi penggemar novelnya akan komentar ini itu. Ya menurut gue sih adaptasinya udah cukup oke kok. Terutama kumis sang detektif yang ikonik, sepertinya jadi maskot cerita tersebut. Bagi penggemar kisah detektif seperti Sherlock Holmes, film ini oke juga.